banner 728x250

Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan Memburuk Saat Karhutla Berlangsung

Kabut Asap Menekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Sumatra dan Kalimantan
banner 120x600
banner 468x60

Palembang | Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan memburuk ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung. Kabut asap dilaporkan menyelimuti beberapa daerah, sehingga pencemaran udara meluas dan mulai menjadi perhatian bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari di wilayah terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya terlihat dari titik api, tetapi juga dirasakan melalui penurunan kualitas udara di kawasan yang berada di sekitar maupun dekat dengan sumber kebakaran.

Informasi mengenai kondisi itu mengacu pada indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Amerika Serikat yang dibagikan IQAir pada Rabu, 14 Oktober 2026. Indeks tersebut digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara berdasarkan sejumlah parameter, termasuk keberadaan partikel yang dapat terhirup. Ketika nilai indeks meningkat ke level yang mengkhawatirkan, udara di suatu wilayah dinilai semakin tidak sehat, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan polusi.

banner 325x300

Kabut asap dari karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila terhirup dalam waktu lama. Masyarakat dapat mengalami keluhan seperti iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, serta kesulitan bernapas. Risiko tersebut dapat menjadi lebih besar bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit tertentu. Durasi paparan menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan selama kualitas udara belum membaik.

Meluasnya kabut asap membuat pemantauan kualitas udara diperlukan secara berkala di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Perubahan nilai AQI dapat membantu masyarakat memahami kondisi udara terkini dan mempertimbangkan aktivitas di luar ruangan. Selama kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung, penurunan kualitas udara berpotensi tetap dirasakan di sejumlah daerah, bergantung pada sebaran kabut asap dan kondisi di lapangan.

Kualitas udara di Sumatra menunjukkan perbedaan tingkat keparahan yang tajam selama karhutla berlangsung. Palembang, Sumatra Selatan, mencatat indeks kualitas udara atau AQI sebesar 877, sehingga masuk kategori berbahaya. Konsentrasi PM2.5 di kota ini mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³), jauh di atas ambang yang dianggap aman bagi kesehatan. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat menghadapi risiko serius ketika beraktivitas di luar ruangan.

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan berpotensi mencapai aliran darah. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mata dan tenggorokan, batuk, serta gangguan pernapasan. Bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang telah memiliki penyakit asma, jantung, atau paru-paru, kondisi ini dapat memperburuk keluhan kesehatan yang sudah ada.

Tingkat bahaya serupa juga terlihat di Pekanbaru, Riau, dengan AQI 401 yang termasuk kategori berbahaya. Posisi berikutnya ditempati Padang, Sumatra Barat, dengan AQI 227, serta Medan, Sumatra Utara, dengan angka 205. Berdasarkan skala AQI Amerika Serikat, kedua kota tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat. Pada tingkat ini, risiko dampak kesehatan meningkat bagi seluruh kelompok masyarakat, bukan hanya bagi individu yang sensitif terhadap polusi.

Sementara itu, kualitas udara di Jambi tercatat pada AQI 198 dan Lampung berada di angka 158. Keduanya termasuk kategori tidak sehat, meskipun tingkat pencemarannya masih berada di bawah Palembang, Pekanbaru, Padang, dan Medan. Urutan ini memperlihatkan bahwa dampak asap karhutla tersebar luas di Sumatra, dengan tingkat risiko yang berbeda antardaerah. Warga di wilayah terdampak perlu membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi asap meningkat, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Data kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan menunjukkan kategori yang memburuk ketika karhutla berlangsung. Kubu Raya dan Sintang, Kalimantan Barat, serta Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dilaporkan mencapai kategori berbahaya. Ketiga wilayah tersebut tercatat memiliki angka indeks 1.144. Angka itu menjadi catatan kualitas udara tertinggi yang disebutkan dalam data untuk wilayah-wilayah Kalimantan pada periode pelaporan tersebut.

Pontianak, Kalimantan Barat, juga mencatat kualitas udara pada level yang sangat tidak sehat. Nilai Air Quality Index (AQI) di kota ini berada di angka 223 dan masuk kategori sangat tidak sehat. Data tersebut menempatkan Pontianak dalam kelompok wilayah dengan kualitas udara yang berada pada tingkat tinggi, meskipun kategorinya berbeda dari Kubu Raya dan Sintang yang dilaporkan berada pada level berbahaya.

Di Kalimantan Selatan, Banjarmasin dilaporkan berada dalam kategori berbahaya. Sementara itu, Balikpapan, Kalimantan Timur, tercatat dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Rangkaian catatan ini mencakup wilayah dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur, dengan tingkat indeks dan kategori yang tidak sama di setiap lokasi.

Selain data indeks kualitas udara, IQAir juga menunjukkan adanya titik kebakaran dengan tingkat rendah hingga tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan. Titik-titik tersebut tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Informasi ini melengkapi catatan kualitas udara berdasarkan lokasi, angka indeks, kategori, serta tingkat titik kebakaran yang tersedia dalam sumber pelaporan.

Masyarakat di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang terdampak karhutla perlu memantau perkembangan indeks kualitas udara secara berkala. Informasi tersebut dapat membantu menentukan penyesuaian aktivitas harian, terutama ketika konsentrasi polutan meningkat. Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pencemaran, tetapi juga oleh jenis polutan dan lamanya seseorang terpapar. Karena itu, kondisi udara yang berubah dari waktu ke waktu perlu menjadi pertimbangan dalam merencanakan kegiatan di luar rumah.

Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung termasuk kelompok yang memerlukan perhatian lebih. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan jumlah udara tercemar yang masuk ke dalam tubuh. Pemantauan indeks udara secara rutin membantu masyarakat memilih perlindungan yang sesuai dan menghindari kegiatan pada waktu ketika pencemaran berada pada tingkat lebih tinggi.

Pengurangan paparan juga dapat dilakukan dengan menutup jendela dan pintu ketika udara luar tercemar. Langkah ini membantu membatasi masuknya asap dan partikel ke dalam ruangan. Apabila tersedia, penyaring udara dapat digunakan untuk membantu menjaga kondisi udara di dalam rumah. Ruangan juga perlu dipantau agar tidak menjadi sumber paparan tambahan, khususnya bagi penghuni yang lebih sensitif terhadap asap dan polutan.

Jika indeks kualitas udara berada dalam kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, pembatasan aktivitas luar ruangan perlu lebih diperhatikan. Kelompok rentan sebaiknya menghindari kegiatan yang tidak mendesak di luar rumah, sementara seluruh anggota masyarakat perlu terus memantau perubahan indeks pencemaran. Penyesuaian kegiatan, pengurangan durasi paparan, dan perlindungan di dalam ruangan menjadi langkah penting selama kondisi udara masih dipengaruhi oleh karhutla.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Titik Panas Karhutla Turun, Kalimantan Tengah Masih Mendominasi | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah

banner 325x300