banner 728x250

Alim Setiawan Slamet Jadi Wamentan, Siap Dukung Swasembada Pangan

Alim Setiawan Slamet Jadi Wamentan, Siap Dukung Swasembada Pangan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto melantik Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian. Pelantikan ini menempatkan seorang akademisi di jajaran pimpinan Kementerian Pertanian, sekaligus menambah dukungan bagi Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam menjalankan tugas kementerian. Alim dikenal memiliki latar belakang di dunia pendidikan tinggi dan menjabat sebagai rektor Institut Pertanian Bogor (IPB). Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari profilnya saat memasuki pemerintahan, terutama karena isu pertanian berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan, riset, pengembangan teknologi, serta penerapan inovasi di lapangan.

Dengan bergabungnya Alim, Amran kini didampingi oleh dua wakil menteri. Penambahan satu posisi wakil menteri memperluas jajaran yang membantu koordinasi dan pelaksanaan agenda kementerian. Dalam pemerintahan, pembagian peran di pimpinan dapat mendukung pengelolaan berbagai prioritas, termasuk kebijakan, program, dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan. Namun, rincian pembagian tugas Amran dan kedua wakilnya tidak dapat disimpulkan hanya dari informasi pelantikan. Susunan kepemimpinan tersebut menjadi konteks utama dalam memahami perubahan di Kementerian Pertanian, sementara pelaksanaan kerja selanjutnya akan terlihat melalui kebijakan dan langkah masing-masing pejabat.

banner 325x300

Latar akademik Alim juga menghadirkan perhatian terhadap kemungkinan kontribusi keilmuan dalam agenda pertanian nasional. Kementerian menangani persoalan yang mencakup produksi, produktivitas, pengembangan sumber daya manusia, dan pemanfaatan hasil penelitian. Hubungan perguruan tinggi dan pemerintah dapat menjadi salah satu jalur untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, meski hasilnya bergantung pada program dan keputusan yang benar-benar dijalankan. Penunjukan ini berlangsung dalam konteks perhatian pemerintah terhadap swasembada pangan, sebuah sasaran yang membutuhkan koordinasi lintas sektor dan dukungan berbagai pihak. Dengan dua wakil menteri, kepemimpinan kementerian kini memiliki susunan pendamping yang lebih luas untuk mendukung pelaksanaan tugas. Pelantikan Alim karena itu menandai perubahan komposisi pimpinan, sekaligus membuka ruang bagi kolaborasi pengalaman akademik dan pengelolaan pemerintahan. Informasi tersebut memberi gambaran awal mengenai latar pejabat baru dan posisi kementerian, tanpa mengasumsikan rincian tugas yang belum diumumkan.

Sebelum susunan terbaru Wakil Menteri Pertanian terbentuk, Letjen TNI (Purn.) Muhammad Saleh Mustofa lebih dahulu dilantik pada 1 Oktober 2026. Pelantikan tersebut menempatkannya sebagai Wakil Menteri Pertanian I. Urutan waktu ini penting untuk memahami perubahan susunan di lingkungan Kementerian Pertanian: Saleh Mustofa telah mengemban jabatan itu sebelum Alim Setiawan Slamet disebut sebagai wakil menteri. Dengan demikian, pelantikan pada awal Oktober menjadi penanda awal dalam kronologi pengisian posisi wakil menteri yang menjadi konteks bagi perubahan berikutnya.

Pada saat Saleh Mustofa dilantik, Sudaryono masih tercatat sebagai Wakil Menteri Pertanian. Setelah itu, Sudaryono mengalami pergeseran jabatan dan ditetapkan menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Keterangan mengenai perubahan tersebut menunjukkan perpindahan dari jabatan wakil menteri ke pimpinan badan, tanpa perlu menambahkan dugaan mengenai latar belakang atau alasan penempatannya. Rangkaian ini membantu membedakan jabatan yang diemban masing-masing tokoh pada waktu yang berbeda, sekaligus mencegah anggapan bahwa pelantikan Saleh Mustofa dan pergeseran Sudaryono merupakan peristiwa yang terjadi bersamaan.

Susunan sebelumnya, karena itu, dapat dibaca melalui dua tahapan waktu: Saleh Mustofa dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian I pada 1 Oktober 2026, kemudian Sudaryono bergeser menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Keterangan jabatan dan urutan tersebut menjadi konteks bagi pembahasan mengenai Alim Setiawan Slamet dalam susunan wakil menteri berikutnya. Penjelasan kronologis ini juga menegaskan bahwa sebutan Wakil Menteri Pertanian I merujuk pada posisi Saleh Mustofa saat dilantik, sedangkan Sudaryono kemudian menjalankan tugas pada lembaga yang berbeda. Informasi ini cukup untuk menggambarkan susunan sebelumnya secara faktual, tanpa menyimpulkan lebih jauh tentang pertimbangan di balik perubahan jabatan maupun memperluas uraian ke bidang tugas yang tidak disebutkan.

Setelah resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian, Alim Setiawan Slamet menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menyatakan siap menjalankan amanah tersebut dan membantu Menteri Pertanian dalam melaksanakan tugas pemerintahan di sektor pertanian. Pernyataan itu menegaskan komitmennya untuk bekerja bersama jajaran kementerian, bukan mengambil alih peran menteri, dalam mendukung agenda yang telah ditetapkan pemerintah.

Alim menyebut dukungan terhadap program strategis nasional sebagai salah satu fokus kerjanya. Dalam kapasitasnya sebagai wakil menteri, ia akan membantu mendorong pelaksanaan program-program tersebut sesuai arahan dan kebijakan pemerintah. Upaya ini mencakup koordinasi serta dukungan terhadap langkah yang berkaitan dengan pembangunan pertanian. Ia juga menempatkan swasembada pangan sebagai tujuan penting yang perlu diupayakan melalui kerja bersama. Pernyataan tersebut merupakan komitmen untuk mendukung proses dan kebijakan menuju swasembada, bukan pernyataan bahwa sasaran itu telah tercapai.

Selain program strategis nasional dan swasembada pangan, Alim menyoroti hilirisasi produk pertanian. Hilirisasi diarahkan agar hasil pertanian tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi dapat memperoleh nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan rantai usaha. Dengan demikian, dukungan terhadap sektor pertanian dapat mencakup berbagai tahapan, dari produksi hingga pemanfaatan hasil. Alim menyatakan akan membantu Menteri Pertanian mendorong agenda tersebut sebagai bagian dari tugasnya. Pelaksanaannya tetap membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan kerja berkelanjutan bersama para pemangku kepentingan. Komitmen yang disampaikan setelah pelantikan itu memperlihatkan fokus kerja yang ingin ia dukung: menjalankan program strategis, mengupayakan swasembada pangan, serta memperkuat hilirisasi produk pertanian. Hasil dari agenda-agenda tersebut akan bergantung pada pelaksanaan kebijakan dan kolaborasi berbagai pihak ke depan.

Alim Setiawan Slamet menilai perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan dan keahlian yang dapat berkontribusi langsung terhadap agenda swasembada pangan. Hasil riset kampus, menurutnya, perlu dimanfaatkan dan dihubungkan dengan kebutuhan sektor pertanian, sehingga inovasi tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi dapat diterapkan oleh petani dan pelaku usaha. Pemanfaatan tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, serta menjawab tantangan produksi di berbagai daerah.

Salah satu contoh yang disebut Alim ialah pengembangan varietas unggul. Varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan budidaya dapat mendukung peningkatan hasil pertanian. Di samping itu, ia menyinggung adanya beragam inovasi lain dari perguruan tinggi yang berpotensi mendukung proses produksi pangan. Potensi tersebut, pada pandangannya, perlu dijembatani dengan pelaksanaan program pemerintah agar hasil penelitian dapat diterapkan secara lebih luas dan memberikan manfaat nyata.

Alim juga menekankan pentingnya hilirisasi sebagai bagian dari upaya memperbesar nilai tambah hasil pertanian. Penguatan hubungan riset, produksi, dan pengolahan dapat membuka peluang agar komoditas tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Dengan dukungan inovasi, hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan sektor pangan. Karena itu, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan pihak terkait dinilai penting untuk menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan di lapangan.

Meski menyampaikan kesiapan untuk mendukung upaya tersebut, Alim mengatakan bahwa ia masih menunggu arahan Presiden. Hingga saat itu, ia mengaku belum menerima arahan maupun pembagian tugas dari Menteri Pertanian. Termasuk, belum ada penetapan mengenai pembagian peran dengan Wakil Menteri Pertanian I. Dengan demikian, rincian tanggung jawab dan bentuk dukungan yang akan dijalankannya masih menunggu keputusan serta koordinasi lebih lanjut di lingkungan pemerintahan.

Baca juga: Meninggalnya Iwan Setiawan: Legenda Sepak Bola Indonesia

banner 325x300