banner 728x250

Bitcoin Depot Tutup Seluruh ATM Setelah Ajukan Perlindungan Kebangkrutan

Bitcoin Depot Tutup Seluruh ATM Setelah Ajukan Perlindungan Kebangkrutan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Bitcoin Depot, operator ATM Bitcoin yang terdaftar di Nasdaq dan berkantor pusat di Atlanta, Amerika Serikat, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 secara sukarela. Permohonan tersebut disampaikan kepada Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Texas pada Senin waktu setempat. Pengajuan ini menandai perubahan besar bagi perusahaan yang selama ini mengoperasikan jaringan mesin untuk membeli dan menjual aset kripto menggunakan uang tunai.

Langkah hukum tersebut merupakan bagian dari rencana Bitcoin Depot untuk menghentikan kegiatan bisnis dan menjual asetnya melalui proses yang diawasi pengadilan. Chapter 11 memungkinkan perusahaan menjalani proses kebangkrutan sambil mengatur penyelesaian urusan dan penjualan aset sesuai ketentuan hukum. Namun, dalam kasus ini, pengajuan tersebut disertai rencana untuk mengakhiri operasi, bukan sekadar restrukturisasi agar layanan berjalan seperti sebelumnya. Proses selanjutnya akan berlangsung di bawah pengawasan pengadilan.

banner 325x300

Dampak langsungnya adalah seluruh jaringan ATM Bitcoin Depot dinonaktifkan. Dengan demikian, mesin-mesin yang sebelumnya menjadi akses bagi pelanggan untuk melakukan transaksi kripto tidak lagi tersedia untuk digunakan. Penonaktifan ini berkaitan dengan rencana perusahaan menghentikan bisnis dan menjalani proses penjualan aset. Pengguna yang memiliki pertanyaan mengenai transaksi atau urusan lain dengan perusahaan perlu merujuk pada komunikasi resmi Bitcoin Depot maupun dokumen yang diajukan dalam perkara kebangkrutannya.

Perlu ditegaskan bahwa perkembangan ini terjadi di Amerika Serikat dan bukan penutupan ATM Bitcoin Depot di Indonesia. Pengadilan yang menangani perkara berada di Distrik Selatan Texas, sedangkan perusahaan berbasis di Atlanta. Karena itu, kabar mengenai penonaktifan seluruh jaringan merujuk pada operasi perusahaan yang terdampak oleh proses tersebut, bukan pada layanan ATM di Indonesia. Pengajuan Chapter 11 dan rencana menjual aset menjadi dasar hukum bagi penghentian operasional yang diumumkan.

Sebelum seluruh mesin dinonaktifkan, Bitcoin Depot menjalankan jaringan berskala besar dengan 9.276 kios ATM pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menggambarkan luasnya operasi perusahaan sebelum keputusan penghentian, sekaligus menunjukkan bahwa layanan yang terdampak bukan hanya beberapa lokasi tertentu. Kios-kios itu memungkinkan pengguna menukar uang tunai dengan Bitcoin, sehingga berfungsi sebagai titik akses fisik bagi orang yang ingin membeli aset digital menggunakan uang tunai. Dengan jumlah lebih dari sembilan ribu unit, jaringan tersebut menjadi bagian utama dari kegiatan Bitcoin Depot dan menjangkau pengguna di beberapa pasar.

Operasi kios Bitcoin Depot tersebar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Jangkauan lintas negara ini membuat penghentian seluruh mesin memiliki cakupan yang luas, meskipun informasi yang tersedia tidak menyebutkan berapa banyak kios yang beroperasi di masing-masing negara. Karena itu, angka 9.276 sebaiknya dipahami sebagai jumlah keseluruhan jaringan pada tahun sebelumnya, bukan rincian lokasi atau pembagian per pasar. Data yang ada juga tidak menjelaskan apakah semua kios memiliki tingkat penggunaan yang sama, atau apakah jumlah unit aktif berubah selama periode tersebut.

Informasi mengenai skala operasi itu memberikan konteks penting untuk memahami keputusan menonaktifkan seluruh mesin setelah perusahaan mengajukan perlindungan kebangkrutan. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci kapan setiap kios mulai offline. Tidak ada pula jadwal penonaktifan yang membedakan satu negara, wilayah, atau lokasi tertentu dari yang lain. Dengan demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh 9.276 unit berhenti beroperasi pada waktu yang sama berdasarkan angka tersebut saja. Yang dapat dipastikan dari informasi yang disampaikan adalah bahwa perusahaan sebelumnya mengoperasikan jaringan berjumlah 9.276 kios ATM, dengan layanan penukaran uang tunai menjadi Bitcoin, dan jaringan itu tersebar di Amerika Serikat, Kanada, serta Australia. Rincian lebih jauh tentang urutan penghentian, jumlah per negara, dan kondisi operasional masing-masing mesin tidak tersedia dalam keterangan tersebut.

Laporan kuartal pertama 2026 memperlihatkan tekanan keuangan yang tajam di Bitcoin Depot, sebelum perusahaan mengajukan perlindungan kebangkrutan dan mengumumkan penutupan seluruh ATM-nya. Pendapatan tercatat turun 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan hampir separuh ini menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi kemerosotan besar dalam skala bisnis atau nilai transaksi yang menghasilkan pemasukan, meskipun angka tersebut saja tidak menjelaskan seluruh persoalan yang dihadapi.

Perubahan pada laba bersih bahkan lebih mencolok. Bitcoin Depot membukukan rugi bersih US$9,5 juta pada kuartal pertama 2026, berbalik dari laba US$12,2 juta setahun sebelumnya. Pergeseran ini berarti perusahaan tidak hanya kehilangan sebagian pendapatan, tetapi juga mengalami perubahan signifikan pada hasil akhirnya setelah memperhitungkan biaya dan pos keuangan lainnya. Ketika pendapatan menyusut sementara perusahaan tetap menanggung biaya operasional, ruang untuk mempertahankan profitabilitas dapat semakin terbatas.

Laba kotor perusahaan juga merosot 85% menjadi US$45 juta. Karena laba kotor mencerminkan pendapatan setelah biaya langsung terkait layanan atau transaksi, penurunan tersebut memberi gambaran tambahan mengenai tekanan pada kegiatan inti. Namun, angka laba kotor tidak dengan sendirinya mengungkap penyebab spesifiknya. Data yang tersedia perlu dibaca sebagai indikator kondisi keuangan pada periode pelaporan, bukan sebagai penjelasan lengkap mengenai keputusan perusahaan untuk mencari perlindungan kebangkrutan.

Pengajuan kebangkrutan terjadi dalam konteks yang lebih luas daripada penurunan kinerja kuartalan. Selain melemahnya pendapatan dan laba, perusahaan juga menghadapi tekanan regulasi serta gugatan hukum, yang dapat menambah ketidakpastian dan beban usaha. Faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi operasi, biaya, maupun prospek perusahaan, tetapi informasi yang tersedia tidak menetapkan bobot masing-masing dalam keputusan untuk mengajukan perlindungan. Dengan demikian, hasil kuartal pertama 2026 menunjukkan kondisi keuangan yang memburuk secara nyata, sementara penutupan jaringan ATM dan proses kebangkrutan perlu dipahami sebagai perkembangan yang berlangsung di tengah gabungan tekanan keuangan, hukum, dan regulasi, bukan semata-mata akibat satu angka atau satu laporan.CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyebut perubahan aturan sebagai salah satu tekanan utama yang mendorong perusahaan menghentikan operasinya. Dalam penjelasannya, persyaratan kepatuhan yang semakin ketat menambah beban bagi operator, sementara batas transaksi membatasi cara pelanggan menggunakan ATM Bitcoin. Sejumlah yurisdiksi juga memberlakukan pembatasan, bahkan larangan, terhadap pengoperasian mesin tersebut. Kombinasi kebijakan ini membuat perusahaan harus menyesuaikan kegiatan di berbagai wilayah dengan ketentuan yang tidak selalu sama.

Holmes turut menyoroti meningkatnya litigasi dan penegakan aturan terhadap bisnis ATM kripto. Menurutnya, perubahan lingkungan hukum dan pasar telah membuat model bisnis Bitcoin Depot tidak lagi berkelanjutan dalam kondisi saat ini. Perusahaan juga menghadapi gugatan yang dipimpin jaksa agung Massachusetts dan Iowa, dengan tuduhan bahwa layanannya memfasilitasi penipuan kripto. Kasus-kasus tersebut berlangsung di tengah perhatian yang lebih besar terhadap kerugian konsumen. Sumber menyebut kerugian akibat penipuan melalui ATM kripto meningkat 58% dibandingkan 2024, mencapai rekor US$389 juta pada tahun lalu. Angka itu memperlihatkan besarnya dampak yang dikaitkan dengan penipuan, sekaligus menjelaskan mengapa pengawasan terhadap layanan semacam ini menjadi isu penting dalam sengketa dan pembahasan regulasi.

Di luar tekanan hukum, sumber juga mencatat bahwa adopsi institusional kripto secara global sedang meluas melalui produk ETF, sementara kerangka regulasi berkembang melalui Clarity Act. Namun, perkembangan industri tersebut tidak menghapus persoalan yang dihadapi operator ATM dalam yurisdiksi tempat aturan transaksi dan operasional semakin ketat. Dalam langkah hukum terkait penutupan, anak usaha Bitcoin Depot di Kanada turut dimasukkan ke dalam proses kebangkrutan di Amerika Serikat.

Baca juga: Program Beasiswa DKI Jakarta untuk Studi Pascasarjana di Seluruh Dunia

banner 325x300