Kabupaten Temanggung | PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), yang dikenal sebagai BKI, bersama IDSurvey Group meresmikan Program Desa Binaan Nglarangan di Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Peresmian ini menandai dimulainya upaya kolaboratif untuk mendukung pengembangan masyarakat desa melalui kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi warga. Kehadiran program tersebut membawa perhatian pada pentingnya peningkatan keterampilan sebagai salah satu langkah untuk memperluas peluang ekonomi di tingkat lokal.
Program Desa Binaan Nglarangan dijalankan melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BKI, dengan dukungan perusahaan dalam mendorong kapasitas masyarakat. Pendekatan ini menempatkan pemberdayaan sebagai bagian penting dari kontribusi perusahaan kepada lingkungan sekitar. Melalui program yang berfokus pada pengembangan kemampuan, warga diharapkan memperoleh bekal yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk menjajaki kegiatan ekonomi produktif. Pelaksanaannya juga membuka ruang bagi kolaborasi perusahaan dan masyarakat dalam mengenali peluang yang relevan dengan kondisi setempat.
Salah satu kegiatan yang diperkenalkan dalam program ini adalah pelatihan pengelasan. Keterampilan tersebut dipilih sebagai bekal praktis yang berpotensi digunakan untuk memperoleh pekerjaan atau mengembangkan usaha secara mandiri. Bagi warga, penguasaan dasar pengelasan dapat menjadi alternatif di tengah terbatasnya pilihan sumber penghasilan, sekaligus mendorong tumbuhnya jasa yang dibutuhkan di lingkungan sekitar. Pelatihan ini bukan hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk membuka wawasan tentang kemungkinan penerapannya sebagai kegiatan usaha. Dengan demikian, peresmian Desa Binaan Nglarangan menjadi awal dari upaya BKI dan IDSurvey Group dalam mendukung penguatan kemampuan warga serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih beragam. Hasilnya akan bergantung pada kesinambungan kegiatan dan pemanfaatan keterampilan oleh masyarakat.
BKI dan IDSurvey memanfaatkan kompetensi yang dimiliki perusahaan untuk mendukung pelatihan pengelasan bagi warga Desa Nglarangan. Keterlibatan ini menghubungkan pengalaman dan pengetahuan teknis di bidang jasa inspeksi, pengujian, serta sertifikasi dengan upaya peningkatan kapasitas masyarakat. Materi pelatihan disusun agar peserta dapat mengenal prinsip dasar pengelasan, memahami penggunaan peralatan, dan mempelajari prosedur kerja yang memperhatikan keselamatan. Dengan pendekatan tersebut, dukungan perusahaan tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga diarahkan untuk membagikan pengetahuan praktis yang relevan bagi warga.
Dalam pelatihan, peserta berkesempatan mempelajari keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung, mulai dari pengenalan alat dan bahan, teknik dasar menyambung logam, hingga pemahaman terhadap kualitas dan kerapian hasil kerja. Pembelajaran praktis memberi ruang bagi peserta untuk mencoba, bertanya, dan membangun pemahaman secara bertahap. Keterampilan pengelasan ini dapat menjadi salah satu bekal yang dipertimbangkan warga ketika ingin mengembangkan usaha, mengambil pekerjaan tertentu, atau menambah pilihan kegiatan produktif. Pemanfaatannya tentu bergantung pada kebutuhan setempat, kesiapan masing-masing peserta, serta kesempatan dan sumber daya yang tersedia.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari tahapan pengembangan kapasitas masyarakat dalam Program Desa Binaan Nglarangan. Karena itu, kegiatan ini perlu dipahami sebagai proses pengenalan dan penguatan keterampilan, bukan sebagai bukti bahwa peserta telah membuka usaha atau memperoleh penghasilan tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi peluang, merencanakan langkah lanjutan, dan meningkatkan kemampuan melalui latihan maupun pendampingan berikutnya. Dengan dukungan BKI dan IDSurvey, warga memperoleh akses pada pembelajaran teknis yang berpotensi memperluas pilihan pengembangan diri dan ekonomi. Keberlanjutan manfaatnya akan ditentukan oleh proses belajar, penerapan keterampilan, serta kesesuaian peluang dengan kondisi masyarakat Desa Nglarangan.
Program Desa Binaan Nglarangan dirancang sebagai upaya jangka panjang yang menghubungkan penguatan kapasitas warga dengan perhatian terhadap pendidikan, lingkungan, dan usaha masyarakat. Rancangan program mencakup pelaksanaan hingga 2028, sehingga arah kegiatan tidak hanya berfokus pada kebutuhan sesaat, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan potensi desa. Kerangka ini menjadi dasar untuk menyusun dukungan yang relevan bagi warga, dengan tetap membuka ruang penyesuaian terhadap kondisi setempat. Dalam pelaksanaannya, program diarahkan agar berangkat dari kebutuhan nyata dan dapat mendukung perkembangan desa secara bertahap. Ketiga perhatian tersebut ditempatkan sebagai bagian dari satu upaya pemberdayaan yang saling melengkapi, bukan sebagai agenda yang berdiri sendiri. Dengan demikian, rancangan program memberi perhatian pada kualitas hidup masyarakat sekaligus konteks sosial dan potensi ekonomi desa. Rentang perencanaan sampai 2028 juga memberi panduan bagi pihak yang terlibat untuk melihat tahapan program dalam perspektif jangka menengah. Namun, arah dan pelaksanaan kegiatan tetap perlu diselaraskan dengan masukan warga serta perkembangan kebutuhan di lapangan.
Program ini memiliki tiga bidang utama, yaitu IDS Skill Plus, IDS EcoAssure, dan IDS UMKM Growth Hub. Ketiganya menjadi payung bagi cakupan program yang menempatkan pendidikan, lingkungan, serta usaha masyarakat sebagai perhatian penting dalam pembangunan desa. Nama bidang tersebut menunjukkan struktur utama program, sementara rancangan pelaksanaannya perlu berpijak pada hasil identifikasi kebutuhan dan potensi warga. Karena itu, pemahaman terhadap konteks Nglarangan menjadi bagian penting sebelum kegiatan ditetapkan lebih lanjut. Setiap bidang berada dalam kerangka Program Desa Binaan yang direncanakan hingga 2028, dengan tujuan agar dukungan yang disusun memiliki keterkaitan dengan prioritas setempat. Uraian mengenai bidang-bidang tersebut tidak terpisah dari proses perencanaan bersama, sebab kebutuhan dan peluang di desa menjadi pertimbangan dalam menyusun arah program. Pendekatan ini membantu menjaga agar cakupan program tidak ditentukan semata-mata dari luar, melainkan disesuaikan dengan situasi masyarakat. Dengan kerangka tersebut, tiga bidang utama menjadi acuan umum dalam merancang program yang responsif terhadap desa.
Sebelum rancangan kegiatan disusun, pelaksanaan diawali dengan pemetaan sosial dan survei kebutuhan. Tahap ini dilengkapi diskusi bersama Bapperida, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat. Pelibatan para pihak tersebut dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi, kebutuhan, dan potensi warga dari berbagai sudut pandang. Pemetaan dan survei memberi landasan bagi proses perencanaan, sedangkan diskusi membantu menyelaraskan pemahaman pihak-pihak yang terlibat. Masukan masyarakat menjadi unsur penting agar rancangan tidak mengabaikan pengalaman dan prioritas warga. Pada saat yang sama, koordinasi dengan lembaga dan pemerintah di tingkat daerah maupun desa mendukung kesesuaian program dengan konteks wilayah. Hasil proses tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kegiatan di bawah tiga bidang utama. Dengan demikian, rancangan Program Desa Binaan Nglarangan dibangun melalui proses yang berangkat dari kondisi lokal, bukan melalui asumsi umum tentang kebutuhan desa. Keselarasan tujuan program, kebutuhan, dan potensi warga menjadi prinsip dalam merencanakan pelaksanaan sampai 2028.
Pelaksanaan program Desa Binaan Nglarangan dirancang secara bertahap agar manfaat pelatihan dan pendampingan dapat berkembang dalam jangka panjang. Pada 2026, kegiatan dipusatkan pada program prioritas yang menjawab kebutuhan warga, termasuk penguatan keterampilan pengelasan dan kapasitas ekonomi. Tahap ini menjadi dasar bagi peserta untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis yang relevan dengan potensi desa. Selain mengikuti pelatihan, warga didorong mengenali peluang yang dapat dikembangkan dari keterampilan tersebut, baik secara perorangan maupun melalui kerja sama dengan lingkungan sekitar.
Penguatan kapasitas akan dilanjutkan pada 2027. Pada tahap ini, pendampingan diarahkan untuk membantu warga memperdalam kemampuan, membangun kesiapan dalam menerapkan keterampilan, serta melihat kemungkinan pengembangan kegiatan produktif. Pendekatan berjenjang memberi ruang bagi peserta untuk belajar secara berkelanjutan, menyesuaikan penerapan pengetahuan dengan kondisi setempat, dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam mengelola peluang. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diharapkan menjadi bagian dari proses warga membangun kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun kegiatan usaha.
Selanjutnya pada 2028 program diarahkan.
Baca juga: Program Beasiswa DKI Jakarta untuk Studi Pascasarjana di Seluruh Dunia | Uji Hasil Penelitian Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Tegaskan Kepastian Hukum Harus Jadi Fondasi Utama Pelaksanaan Program Strategis Nasional | Penguatan Keamanan untuk Menjaga Iklim Investasi Nasional












