banner 728x250

Pekerja Tertimbun Longsoran di Sumur Sedalam 15 Meter, Evakuasi di Lebak Masih Berlangsung

Pekerja Tertimbun Longsoran di Sumur Sedalam 15 Meter, Evakuasi di Lebak Masih Berlangsung
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Lebak | Seorang pekerja bernama Deni, warga Desa Cipendeuy, Kecamatan Malimping, Kabupaten Lebak, Banten, tertimbun material tanah saat bekerja menggali sumur pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB ketika korban berada di dalam sumur yang tengah dikerjakan.

Sumur itu memiliki kedalaman sekitar 15 meter. Saat proses penggalian berlangsung, material tanah dari bagian dinding sumur tiba-tiba runtuh. Longsoran kemudian jatuh ke bagian bawah dan menimbun Deni yang berada di dalam sumur. Kejadian berlangsung secara mendadak sehingga korban tidak sempat keluar dari lokasi sebelum material tanah menutup ruang tempatnya bekerja.

banner 325x300

Warga sekitar mengetahui kejadian tersebut dan berupaya memberikan bantuan. Namun, posisi korban yang berada di dasar sumur dengan kedalaman cukup ekstrem membuat proses penanganan harus dilakukan secara hati-hati. Kondisi tanah serta kemungkinan terjadinya runtuhan susulan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan selama upaya pertolongan berlangsung.

Hingga informasi mengenai kejadian itu disampaikan, Deni belum berhasil dievakuasi dari dalam sumur. Proses evakuasi masih berlangsung untuk mengeluarkan korban dari timbunan material tanah. Petugas dan pihak terkait diharapkan dapat segera mencapai lokasi korban dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh orang yang terlibat dalam penanganan.

Setelah menerima laporan mengenai pekerja yang tertimbun longsoran di dalam sumur sedalam sekitar 15 meter, Basarnas Banten segera mengerahkan personel untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan. Tim rescue dari Unit Siaga SAR Lebak diberangkatkan menuju lokasi kejadian untuk menangani keadaan darurat tersebut.

Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, menyampaikan bahwa pengerahan personel dilakukan dengan cepat setelah informasi kejadian diterima. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan dan membuka peluang penyelamatan terhadap korban yang masih berada di dalam sumur. Tim yang bergerak membawa tugas utama untuk melakukan pencarian, menilai kondisi di lokasi, serta menjalankan evakuasi sesuai prosedur keselamatan.

Setibanya di lokasi, personel Unit Siaga SAR Lebak melaksanakan koordinasi dengan unsur terkait yang turut terlibat dalam penanganan. Koordinasi diperlukan karena proses evakuasi dari sumur yang tertimbun material longsor memiliki tingkat risiko tinggi dan memerlukan pengaturan tugas secara terpadu. Setiap langkah dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan, kestabilan material, serta keselamatan petugas dan pihak lain di sekitar lokasi.

Al Amrad menjelaskan bahwa tim Basarnas bergerak menuju lokasi segera setelah menerima laporan dan melaksanakan upaya evakuasi secara bersama-sama dengan unsur terkait. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperlancar pencarian serta mempercepat proses pertolongan. Hingga proses penanganan berlangsung, personel rescue tetap melakukan pemantauan dan bekerja sesuai perkembangan situasi di lapangan.

Pengerahan tim ini menjadi bagian dari respons awal Basarnas Banten dalam menghadapi laporan kecelakaan yang membutuhkan tindakan penyelamatan segera. Informasi mengenai perkembangan pencarian dan evakuasi selanjutnya akan mengikuti hasil operasi di lokasi, termasuk kondisi medan dan kemungkinan perubahan strategi yang diperlukan selama proses berlangsung.

Proses evakuasi pekerja bernama Deni yang tertimbun longsoran di dalam sumur sedalam 15 meter di Lebak masih berlangsung. Operasi ini melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, serta masyarakat setempat. Seluruh personel bekerja secara terkoordinasi untuk menemukan dan mengangkat korban dengan memperhitungkan kondisi medan yang berisiko.

Tantangan utama berada pada kondisi tanah di dalam sumur yang belum sepenuhnya stabil. Material longsoran dapat kembali bergerak sewaktu-waktu, terutama ketika petugas melakukan penggalian, penyedotan, atau pemindahan tanah di sekitar titik pencarian. Kedalaman sumur dan ruang kerja yang terbatas juga menyulitkan pergerakan personel serta penggunaan peralatan evakuasi. Karena itu, setiap tahapan harus dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan penilaian keselamatan di lapangan.

Petugas perlu mengantisipasi kemungkinan runtuhan lanjutan yang dapat membahayakan tim maupun memperberat posisi korban. Pengamanan dinding sumur, pemantauan perubahan struktur tanah, serta pengaturan jumlah personel yang turun menjadi bagian penting dalam operasi tersebut. Apabila situasi dinilai membahayakan, petugas dapat menyesuaikan metode dan kecepatan evakuasi agar tidak menimbulkan korban tambahan.

Meski keselamatan seluruh personel menjadi prioritas, upaya pencarian dan pertolongan terhadap Deni tetap dilakukan secara maksimal. Tim terus mengevaluasi perkembangan kondisi di lokasi sambil menyiapkan langkah lanjutan yang paling aman dan efektif. Peralatan pendukung juga digunakan sesuai kebutuhan untuk membantu mengurangi material longsoran serta membuka akses menuju korban.

Basarnas menegaskan bahwa operasi SAR dijalankan sesuai prosedur, dengan mengedepankan keselamatan petugas dan tetap mengoptimalkan upaya evakuasi korban. Koordinasi antartim terus diperkuat agar setiap keputusan dapat diambil berdasarkan informasi terbaru. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, mengingat keselamatan dan keberhasilan evakuasi harus dicapai tanpa mengabaikan risiko runtuhan di dalam sumur.

Insiden pekerja yang tertimbun longsoran saat menggali sumur sedalam 15 meter di Lebak menjadi perhatian karena memperlihatkan besarnya risiko pekerjaan di ruang galian. Dalam situasi tersebut, kondisi dinding tanah dan lingkungan sekitar perlu menjadi perhatian sejak awal. Al Amrad menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan pengingat mengenai pentingnya keselamatan dalam setiap pekerjaan, terutama kegiatan yang dilakukan di lokasi dengan potensi runtuhan.

Penggalian sumur memiliki risiko yang tidak hanya berkaitan dengan kedalaman, tetapi juga dengan karakteristik tanah di sekitarnya. Pada kedalaman tertentu, pekerja dapat menghadapi kondisi lingkungan yang lebih berbahaya apabila struktur tanah tidak stabil. Perubahan pada dinding galian, keadaan permukaan tanah, serta situasi di sekitar lokasi dapat memengaruhi tingkat keselamatan pekerjaan. Karena itu, pekerjaan penggalian tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan biasa tanpa mempertimbangkan potensi bahaya yang mungkin muncul.

Al Amrad mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan keselamatan dalam setiap pekerjaan, termasuk sebelum menggali sumur atau bekerja di tempat yang berisiko mengalami runtuhan dinding tanah. Pemeriksaan terhadap kondisi lingkungan dan kemungkinan bahaya perlu menjadi perhatian sebelum pekerjaan dimulai. Imbauan tersebut juga menekankan bahwa keselamatan harus dipertimbangkan oleh semua pihak yang terlibat, baik pekerja maupun masyarakat di sekitar lokasi. Peristiwa di Lebak diharapkan dapat menjadi pelajaran agar kewaspadaan terhadap risiko penggalian sumur dan pekerjaan di area tanah yang tidak stabil semakin ditingkatkan. Setiap kegiatan perlu dilakukan dengan perhatian serius terhadap lingkungan sekitar, sehingga potensi bahaya dapat dikenali sedini mungkin.

Baca juga: Drama Evakuasi Kerbau Betina dari Sumur Tua di Serang | Hujan Ekstrem Evakuasi Atlet Asian Games di Nagoya | Kebakaran Hutan Dekat TPA Sarimukti KBB: Upaya Pemadaman Berlangsung

banner 325x300