Tangerang | Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumumkan nilai transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 mencapai US,94 miliar dalam konferensi pers penutupan pameran di Tangerang, Minggu. Capaian tersebut menjadi salah satu angka utama yang disampaikan saat penyelenggaraan TEI tahun ini resmi berakhir. Nilai transaksi itu disebut setara dengan Rp14 triliun, sebagaimana tercantum dalam informasi mengenai hasil pameran.
Realisasi transaksi tersebut jauh melampaui target awal yang ditetapkan sebesar US$10,5 miliar. Dengan nilai akhir US$22,94 miliar, capaian TEI 2026 berada pada 131 persen dari sasaran yang diumumkan sebelumnya. Angka itu menunjukkan bahwa nilai transaksi yang tercatat selama pameran melampaui proyeksi awal, sehingga hasil akhir berbeda cukup besar dari target yang menjadi patokan penyelenggaraan.
Besarnya realisasi juga terlihat ketika dibandingkan dengan kinerja Trade Expo Indonesia pada tahun sebelumnya. TEI tahun lalu mencatat transaksi sebesar US$22,68 miliar, dengan target awal US$16,5 miliar. Sementara itu, hasil TEI 2026 mencapai US$22,94 miliar. Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa nilai transaksi tahun ini lebih tinggi daripada realisasi tahun sebelumnya, meskipun selisih nominalnya sekitar US$260 juta.
Perbandingan target dan realisasi kedua penyelenggaraan memberikan konteks untuk membaca capaian TEI 2026. Tahun lalu, transaksi US$22,68 miliar tercatat berhadapan dengan target US$16,5 miliar. Tahun ini, target awal ditetapkan US$10,5 miliar dan hasil akhirnya mencapai US$22,94 miliar. Dengan demikian, pengumuman penutupan menegaskan dua hal berdasarkan angka yang tersedia: transaksi melampaui sasaran awal dan nilainya melampaui realisasi TEI tahun sebelumnya.
Budi Santoso menyampaikan data tersebut pada penutupan pameran di Tangerang. Pengumuman resmi itu menjadi dasar pencatatan hasil TEI 2026 sebesar US$22,94 miliar. Angka tersebut dapat digunakan untuk membandingkan hasil tahun ini dengan target yang telah ditentukan maupun dengan realisasi tahun sebelumnya. Informasi yang disampaikan dalam konferensi pers tidak merinci lebih jauh faktor yang mendorong tercapainya nilai transaksi tersebut.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencatat transaksi sebesar US$510,79 juta dalam ajang TEI 2026. Capaian tersebut menunjukkan kontribusi pelaku usaha berskala kecil dan menengah dalam kegiatan perdagangan yang berlangsung selama pameran. Nilai transaksi ini menjadi bagian dari keseluruhan capaian TEI, yang mencerminkan keterlibatan beragam kelompok usaha dalam menjajaki peluang bisnis dan mempertemukan produk dengan calon pembeli.
Dari sisi negara pembeli, lima negara dengan transaksi tertinggi adalah India, Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Daftar ini menggambarkan jangkauan minat pembeli lintas kawasan terhadap produk yang ditawarkan dalam TEI 2026. Kehadiran negara-negara tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar yang terlibat tidak terbatas pada satu wilayah, melainkan mencakup berbagai tujuan perdagangan. Informasi yang tersedia menyebut negara-negara dengan transaksi tertinggi, tanpa merinci nilai transaksi masing-masing negara.
Kelompok produk dengan nilai transaksi terbesar mencakup makanan dan minuman, perhiasan, produk kayu, produk pertanian, serta produk peternakan. Ragam kategori tersebut memperlihatkan luasnya jenis komoditas yang menarik perhatian pembeli selama penyelenggaraan pameran. Masing-masing kelompok memiliki karakter produk dan kebutuhan pasar yang berbeda, sehingga keberagamannya dapat menjadi salah satu kekuatan dalam penawaran perdagangan Indonesia. Data yang dirilis tidak menyertakan angka transaksi per kategori maupun urutan nilai di kelompok produk tersebut.
Dengan demikian, catatan mengenai transaksi UMKM, negara pembeli, dan kelompok produk unggulan memberikan gambaran tentang sejumlah unsur penting dalam hasil TEI 2026. Nilai transaksi UMKM menunjukkan besarnya peran kelompok usaha ini, sedangkan daftar negara dan kategori produk menandai luasnya jangkauan serta variasi perdagangan yang tercatat. Rincian yang tersedia dapat menjadi bahan untuk memahami hasil pameran secara proporsional, tanpa menafsirkan angka atau peringkat yang tidak dipublikasikan. Pembacaan yang cermat terhadap informasi tersebut juga membantu menjaga agar gambaran capaian tetap sesuai dengan data yang diumumkan, sekaligus menyoroti keterlibatan pelaku usaha dalam forum perdagangan internasional ini.
Persiapan menuju Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 tidak hanya berlangsung di area pameran. Perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri telah melakukan penjajakan bisnis dan pencocokan usaha atau business matching sejak sekitar setahun sebelum acara. Kegiatan ini membantu mempertemukan eksportir dengan calon pembeli internasional yang memiliki minat, kebutuhan, dan peluang kerja sama yang sesuai. Dengan persiapan lebih awal, komunikasi kedua pihak dapat dimulai sebelum mereka bertemu langsung di pameran.
Melalui rangkaian penjajakan tersebut, calon pembeli memperoleh kesempatan untuk mengenal produk Indonesia, kapasitas produksi, serta profil eksportir sebelum datang ke TEI. Informasi awal ini dapat membantu mereka menilai kesesuaian produk dengan pasar yang dituju dan menyiapkan agenda pertemuan selama pameran. Bagi eksportir, komunikasi sebelum acara juga memberi ruang untuk memahami kebutuhan calon mitra, termasuk spesifikasi barang, volume permintaan, persyaratan mutu, dan kemungkinan mekanisme distribusi. Proses itu membuat pertemuan tatap muka lebih terarah, meskipun keputusan komersial tetap bergantung pada pembahasan dan kesepakatan para pihak.
Dalam sejumlah kasus, penjajakan berlanjut dengan kunjungan calon pembeli ke perusahaan dan pabrik di Indonesia. Kunjungan langsung memungkinkan calon mitra melihat proses produksi, fasilitas, serta kemampuan perusahaan dalam memenuhi pesanan. Setelah rangkaian komunikasi dan verifikasi tersebut, beberapa pihak mencapai kesepakatan kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Dokumen itu mencerminkan komitmen untuk menindaklanjuti peluang bisnis, dengan ruang lingkup dan tahap implementasi yang dapat berbeda pada setiap kemitraan. Penjajakan, pencocokan usaha, dan kunjungan lapangan menjadi bagian dari ekosistem persiapan transaksi TEI. Namun, capaian transaksi pameran tidak dapat serta-merta dikaitkan seluruhnya dengan kegiatan tersebut. Nilai yang tercatat dapat terbentuk melalui berbagai jalur, termasuk pertemuan yang berlangsung selama acara maupun kesepakatan yang telah berkembang sebelumnya. Karena itu, upaya pra-pameran lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor pendukung yang memperluas peluang interaksi dan membantu membangun kesiapan eksportir Indonesia dan calon pembeli global.
Budi Santoso menilai nilai transaksi TEI masih berpeluang ditingkatkan, meskipun capaian tahun ini telah melampaui target dan hasil penyelenggaraan sebelumnya. Menurutnya, peningkatan tersebut perlu ditopang oleh perbaikan kualitas sekaligus kuantitas produk Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional secara konsisten. Produk yang mutunya terjaga dan pasokannya memadai dapat memperkuat kepercayaan pembeli serta membuka peluang transaksi berulang. Selain itu, diversifikasi produk ekspor penting dilakukan agar Indonesia tidak bergantung pada jenis komoditas tertentu. Pengembangan ragam barang bernilai tambah dapat membantu pelaku usaha menjangkau pasar dan segmen konsumen yang lebih luas. Upaya tersebut juga memberi ruang bagi produk baru untuk bersaing di tengah perubahan kebutuhan global.
Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aries Marsudiyanto, memandang capaian TEI sebagai gambaran potensi perdagangan Indonesia yang besar. Potensi itu, menurutnya, ditopang oleh pasar domestik yang luas, keragaman produk, serta sumber daya alam yang melimpah. Indonesia memiliki populasi sekitar 300 juta jiwa, yang menjadi salah satu modal bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi dan penguatan kapasitas usaha. Pada saat yang sama, peluang pengembangan ekspor masih terbuka lebar, termasuk melalui produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), produk digital, serta sektor ekonomi kreatif. Ragam sumber pertumbuhan ini dapat memperluas basis ekspor sekaligus mendorong lebih banyak pelaku usaha terhubung dengan pembeli luar negeri.
Aries juga menekankan bahwa potensi tersebut perlu disertai.
Baca juga: Target Ambisius NPC Indonesia di Asian Para Games 2026 | Investigasi Terkini KPK Mengenai Kasus Transaksi Bank BJB











