banner 728x250

Karhutla Masih Melanda Enam Provinsi, 639,23 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Masih Melanda Enam Provinsi, 639,23 Hektare Lahan Terbakar
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Kotawaringin Barat | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 639,23 hektare lahan masih terbakar dan saat ini ditangani oleh satuan tugas di lapangan. Kondisi itu menunjukkan bahwa penanganan kebakaran belum sepenuhnya selesai.

Laporan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung di Istana , Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Informasi mengenai rapat dan perkembangan penanganan kemudian dipublikasikan melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa, 13 Oktober 2026.

banner 325x300

Dalam pemaparan BNPB, lahan yang masih terbakar tersebar di enam provinsi. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Penyebaran lokasi kebakaran memperlihatkan bahwa satuan tugas masih perlu melakukan penanganan secara berkelanjutan di berbagai daerah.

Sebagian besar wilayah yang terdampak kebakaran merupakan kawasan gambut. Karakteristik lahan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan di lapangan karena kebakaran pada kawasan gambut belum sepenuhnya padam. Satuan tugas terus menangani titik-titik yang masih terbakar untuk mengendalikan dampak kebakaran di enam provinsi tersebut.

Kalimantan Tengah tercatat sebagai provinsi dengan luasan kebakaran hutan dan lahan terbesar dalam laporan tersebut. Luas area yang terbakar di wilayah ini mencapai 513,89 hektare. Angka itu kembali menjadi perhatian setelah ditemukan titik api baru di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Taman Nasional Tanjung Puting berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. Penemuan titik api baru di kawasan tersebut berkaitan dengan besarnya luasan kebakaran yang tercatat di Kalimantan Tengah. Data itu menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di wilayah ini masih memerlukan perhatian segera, terutama untuk mencegah meluasnya area terdampak.

Area yang terbakar tersebut disebut merupakan lahan mineral, bukan lahan gambut. Keterangan mengenai karakter lahan menjadi bagian dari informasi penanganan di lapangan, tanpa mengubah kebutuhan untuk segera mengendalikan api dan memastikan wilayah terdampak dapat ditangani secara menyeluruh. Pemerintah menghadapi pekerjaan segera untuk menindaklanjuti temuan titik api baru serta mengamankan kawasan di sekitar taman nasional.

Pada hari laporan tersebut disampaikan, Pangdam Kalimantan Tengah telah memimpin langsung operasi di lapangan. Keterlibatan langsung itu menegaskan bahwa penanganan kebakaran di Kalimantan Tengah dilakukan melalui operasi lapangan yang terkoordinasi. Fokusnya mencakup penanganan titik api baru di Taman Nasional Tanjung Puting dan pengendalian area kebakaran yang total luasnya telah mencapai 513,89 hektare. Perkembangan di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan tetap menjadi bagian penting dalam pemantauan berikutnya.

Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menambah personel serta peralatan untuk mendukung operasi darat di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan karena kabut asap tebal menurunkan jarak pandang secara signifikan, sehingga pengerahan armada udara belum dapat berlangsung optimal. Selain memperkuat tim di lapangan, pemerintah juga menyiapkan helikopter water bombing sebagai bagian dari operasi udara untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Dari Palangka Raya melalui Bandara Tjilik Riwut, upaya penerbangan untuk mendukung pemadaman belum berhasil menembus kondisi visibility yang sangat rendah. Hambatan serupa terjadi dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Di Kalimantan Tengah, helikopter water bombing, operasi modifikasi cuaca, dan penerbangan pesawat komersial untuk sementara tidak dapat dilakukan karena faktor keselamatan penerbangan serta keterbatasan jarak pandang.

Karena kondisi tersebut, penanganan kebakaran di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan sementara dipusatkan pada operasi darat. Tim gabungan mengoptimalkan pemadaman langsung, pemantauan titik panas, pembuatan sekat bakar, serta distribusi peralatan ke lokasi yang memerlukan penanganan segera. Strategi ini diharapkan tetap menjaga respons terhadap kebakaran sambil menunggu kondisi atmosfer membaik dan operasi udara dapat kembali digerakkan.

Untuk Sumatra Selatan, penerbangan baru dapat dilakukan pada hari laporan. Operasi tersebut direncanakan dipadukan dengan modifikasi cuaca dan penambahan armada agar jangkauan penanganan menjadi lebih luas. Dalam pelaksanaannya, Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat, sedangkan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat yang didatangkan dari Pangkal Pinang. Pengerahan armada akan disesuaikan dengan perkembangan jarak pandang, kondisi cuaca, serta tingkat keamanan penerbangan.

Pemerintah terus memperhatikan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai peluang hujan di sejumlah wilayah yang masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Informasi cuaca tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan langkah penanganan, terutama di daerah yang mengalami kondisi kering, peningkatan titik panas, serta penyebaran asap. Hujan diharapkan dapat membantu menurunkan suhu permukaan, meningkatkan kelembapan tanah, dan mengurangi potensi meluasnya api di kawasan terdampak.

Berdasarkan prakiraan yang disampaikan, hujan alami berpeluang mulai turun pada pertengahan Oktober hingga November di sejumlah wilayah. Apabila kondisi tersebut berlanjut seiring masuknya musim hujan, curah hujan diharapkan turut memperbaiki situasi kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa pekan mendatang. Namun, potensi hujan tidak serta-merta berarti seluruh titik api akan segera padam. Efektivitasnya tetap bergantung pada intensitas, pemerataan, dan kesinambungan hujan, serta kondisi lahan yang telah terbakar atau masih menyimpan bara di bawah permukaan.

Sebelum dukungan cuaca tersebut benar-benar terjadi, pemerintah menyatakan siap bekerja keras untuk menangani karhutla di berbagai wilayah. Seluruh kemampuan yang dimiliki akan dikerahkan, termasuk pemantauan titik panas, operasi pemadaman darat, dukungan udara, pembasahan lahan, serta koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Langkah ini diperlukan untuk membatasi dampak kebakaran terhadap masyarakat, lingkungan, dan aktivitas ekonomi, sekaligus mencegah munculnya titik api baru. Dengan penanganan yang berkelanjutan dan dukungan hujan yang diharapkan datang, upaya pengendalian dapat terus diperkuat tanpa mengabaikan kewaspadaan terhadap perkembangan kondisi di lapangan.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Titik Panas Karhutla Turun, Kalimantan Tengah Masih Mendominasi | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah

banner 325x300